Oleh: Erika Kartini
(Pemerhati Masalah Sosial, tinggal di Gifu, Jepang)
Beberapa tahun terakhir, permasalahan sampah plastik banyak dibahas. Apalagi semenjak pemerintah China mengeluarkan kebijakan baru yakni tidak lagi menerima impor sampah dari negara lain. Kebijakan ini membuat kalang kabut negara-negara pengekspor sampah. Mereka kebingungan mengatasi sampah yang semakin menggunung.
Kebijakan larangan impor sampah oleh China membuat Jepang harus menghadapi peningkatan lautan sampah plastik. Bukan hanya Jepang, negara-negara berkembang di dunia juga berebut mencari strategi untuk memproses sampah plastik usai China menghentikan impor limbah (Kompas.com, 19/10/2018).
Pengaruh Gaya Hidup
Sampah plastik memang menjadi polemik yang tak kunjung berkesudahan. Ancaman sampah plastik sudah mencapai tahap yang mengerikan. Terutama sampah plastik di lautan. Jutaan hewan mati akibat tertelan sampah plastik.
Tidak bisa dipungkiri bahwa plastik sangat dibutuhkan manusia. Bagi individu, kantung plastik menjadi sesuatu yang praktis. Tidak perlu repot-repot membawa tas dari rumah. Tinggal beli saja, toh harganya murah. Setelah tidak terpakai tinggal dibuang saja. Sangat praktis menurut mereka. Begitu juga dengan botol minuman kemasan.
Bagi pengusaha, plastik adalah bahan favorit untuk kemasan makanan atau minuman. Bahan plastik cenderung murah, tahan air dan tidak cepat rusak. Sehingga bisa menekan biaya produksi. Prinsip kapitalis yang mengatakan bahwa mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dipegang erat oleh para pengusaha.
Sedangkan bagi negara, semisal Indonesia, industri plastik menjadi potensi besar yang mendukung pertumbuhan di berbagai sektor. Jumlah industri plastik hingga saat ini mencapai 925 perusahaan. Sector ini menyerap tenaga kerja sebanyak 37.327 orang (Kompas.com, 10/11/2017).
Diakui atau tidak, individualisme telah menjangkiti masyarakat modern saat ini. Manusia tidak lagi memikirkan orang lain. Demikian juga terhadap alam tempat mereka hidup serta mahluk hidup di dalamnya. Mereka tidak berpikir panjang akibat dari perbuatannya. Gaya hidup yang menginginkan kepraktisan semata, kelak akan membawa kerusakan bagi alam. Di masa depan, anak cucu kita akan menuai dampak negatif sampah plastik ini.
Para pengusaha yang berwatak kapitalis akan selalu mencari cara agar modal yang kecil bisa menghasilkan keuntungan yang besar. Mereka juga akan menjual barang-barang plastik yang cenderung diminati pasar karena harga jual yang murah. Aktor bisnis tidak peduli jika produk yang dihasilkannya akan menambah jumlah sampah plastik dunia.
Negara-negara yang menganut ideologi kapitalis cenderung mem-back up industri yang mendukung pertumbuhan ekonomi seperti industri plastic dan rokok. Pemerintah tidak berpikir apakah itu akan membahayakan kesehatan dan lingkungan.
Jika watak seperti ini masih terus berlanjut maka usaha apapun untuk menangani sampah plastik akan sia-sia. Pemikiran masyarakat harus dirubah. Sehingga gaya hidupnya pun akan berubah. Individu perlu ditanamkan rasa peduli dan kasih sayang. Baik kepada manusia maupun alam.
Pemerintah sebagai pihak yang berwenang seharusnya bisa menerapkan aturan yang pro kepada lingkungan. Bertindak tegas terhadap pengusaha yang masih memproduksi plastic yang tidak ramah lingkungan. Jangan hanya berpikir kepada pertumbuhan ekonomi semata tanpa memikirkan kelestarian alam. Karena sesungguhnya kelestarian alam pasti akan menambah pertumbuhan ekonomi.
Pandangan Islam
Gaya hidup kapitalis dan individualis adalah paham yang rusak dan merusak. Kapitalisme telah menjelma menjadi penyebab serius dari rusaknya dunia. Termasuk permasalahan sampah. Keserakahannya telah membutakan kemanusiaan serta rasa kepedulian. Dalam kapitalisme, mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya adalah hal yang harus dikejar. Paham tersebut tidak lagi menghiraukan kerusakan alam yang terus meningkat.
Demikian juga gaya hidup individualis, paham ini telah membuat manusia hanya perduli kepada dirinya sendiri. Jika membawa keuntungan bagi dirinya maka akan diteruskan tanpa berpikir apakah itu berdampak buruk bagi lingkungan atau tidak.
Dalam Islam pemahaman individualis dan kapitalis tidak dibiarkan tumbuh. Karena Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu akan dimintai pertanggung jawaban. Kelak di akhirat, seluruh alam akan bersaksi tentang kerakusan kapitalisme yang telah merusaknya. Orang-orang yang berbuat zalim terhadap alam akan diberi balasan yang setimpal.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Ruum: 41).
Islam mendorong pemeluknya agar menjaga kebersihan. Karena kebersihan sebagian dari iman. Membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk penjagaan kebersihan. Sehingga kaum muslim harus memiliki kebiasaan ini. Seperti yang sering dikatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.
Selain itu, Islam juga memerintahkan untuk perduli kepada alam. Menjaga kelestariannya serta tidak melakukan hal-hal yang dapat merusaknya. Seperti perintah untuk menyingkirkan duri dari jalan. Kemudian tidak boleh menebang pohon dan merusak tanaman ketika berperang. Wallahu a’lam bisshowab

