Lebaran Istimewa di Negeri Sakura

Allahuakbar..
Allahuakbar..
Allahuakbar..
LailahillaAllah Allahuakbar..
Allahuakbar walillahilham.

Takbir berkumandang di hari raya menandakan bulan mulia telah berlalu. Syawal datang menggantikan Ramadhan. Kaum muslimin bergembira menyambut hari kemenangan. Hari dimana jiwa-jiwa disucikan kembali setelah ditempa di madrasah Ramadhan. Jasmani dan rohani dilatih agar senantiasa taat kepada syariat.

Lebaran kali ini terasa istimewa karena dirayakan di kala pandemi. Jika biasanya Gifu mosque mengadakan shalat Ied maka kali ini ditiadakan. Organisasi Imam se-Jepang telah memutuskan bahwa shalat Ied di tahun 1441 H kali ini ditiadakan. Sedih rasanya, namun apa mau dikata demi mencegah agar tidak terjadi penyebaran virus kita harus menerima kenyataan. Alhamdulillah kami masih bisa menyelenggarakan shalat Ied bersama teman-teman se-tanah air di rumah. Sister dan brother dari Malaysia juga mengadakan sendiri bersama komunitas satu negara mereka. Titik-titik lokasi shalat Ied bersama ada di beberapa tempat. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi penumpukan orang. Meskipun status darurat di Gifu sudah dicabut tetapi protokolnya harus tetap diperhatikan. Tidak terlalu banyak orang berkerumun di suatu tempat, tetap menggunakan masker dan rajin mencuci tangan.

Mungkin Lebaran di tahun 2020 ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi kaum muslim seluruh dunia. Lebaran spesial karena berbeda dari biasanya. Kejadian ini akan menjadi cerita syahdu di masa depan. Lebaran tanpa shalat Ied di masjid, tanpa saling berkunjung dan sebagainya. Namun, kita tidak perlu bersedih. Esensi dari Hari Raya Idul Fitri adalah merayakan hari kemenangan. Menang karena telah berjuang selama Ramadhan. Sehingga di tanggal satu Syawal dapat menjelma menjadi manusia baru. Berubah menjadi lebih baik lagi. Kebiasaan-kebiasaan baik selama Ramadhan tetap terbawa meski Idul Fitri telah datang.

Sebulan penuh digembleng dalam madrasah Ramadhan membuat kita berharap dapat menjadi insan bertakwa. Karena takwa adalah tujuan dari puasa itu sendiri. Suksesnya Ramadhan kita dilihat dari sejauh mana kondisi ketakwaan kita. Bertambah atau justru berkurang. Ketika Idul Fitri menyapa seluruh kaum muslim bersukacita. Berharap di hari kemenangan kita berhasil menang mengalahkan hawa nafsu. Dalam bahasa sebagian ulama dinyatakan, “Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Hari Raya hanyalah untuk orang yang ketaatannya bertambah.” Hari raya bukan tentang baju baru, sendal baru atau tas baru. Bukan pula kue-kue serta pernak-pernik lebaran lainnya. Namun hati yang baru dan bersih. Semakin taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan kata lain, setelah puasa satu bulan lamanya seorang Muslim selayaknya menyandang predikat takwa. La’allakum tattaqun sebagaimana yang tercantum dalam QS al-Baqarah ayat 183.

Salah satu definisi takwa yang sebenarnya dinyatakan oleh Imam al-Hasan. Kata Imam al-Hasan, sebagaimana dikutip oleh Imam ath-Thabari di dalam tafsirnya, kaum yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa takut terjerumus pada apa saja yang telah Allah haramkan atas mereka dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan kepada mereka. Maka yang bertambah ketakwaannya inilah yang benar-benar berbahagia ketika hari raya. Tentu bukan takwa yang pura-pura. Namun, takwa yang bertambah sempurna. Takwa yang makin paripurna. Takwa yang sebenarnya (haqqa tuqatih) (QS Ali Imran [3]: 102).

Semoga di momen Lebaran Istimewa kali ini kita betul-betul menjelma menjadi manusia bertakwa.  Meski wabah Corona menyapa, meski segala aktivitas di luar rumah menjadi terbatas tetapi justru dengan ujian itulah kita menjadi semakin percaya bahwa tidak ada daya dan kuasa selain Sang Pencipta, Allah Swt.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H.
Taqabalallahu Minna wa Minkum
Shiyamana wa Shiyamakum wa Allahulla Alaik

Semoga amalanku dan amalanmu, puasaku dan puasamu diterima-Nya serta disempurnakan-Nya.

-Erika Kartini-

Indahnya Ramadhan di Gifu

Universitas Gifu memiliki nilai plus yang sangat istimewa jika dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu kehadiran masjid Gifu yang lokasiya sangat dekat dengan kampus. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi seluruh umat muslim yang sangat menantikan hadirnya bulan ini beserta segala ibadah yang nilainya dilipatgandakan. Masjid yang menjadi center kegiatan ini tentu saja menambah nilai emosional bagi yang menjalankan ibadah. Masjid iniliah yang biasanya menjadikan suasana Ramadhan sangat hangat dan mennghadirkan rasa kekeluargaan yang erat, walaupun jama’ah berasal dari berbagai negara, namun hadirnya tempat ibadah yang sangat nyaman di tengah-tengah lingkungan yang notabene bukan mayoritas muslim, menjadikan kewarganegaraan hanyalah sebatas nama.

Namun, ada yang berbeda dengan Ramadhan tahun ini. Biasanya, setiap hari selama bulan ramadhan, ada iftar bersama. Saling sapa, senyum dan cerita menjadi pengobat rindu akan keluarga dan kampung halaman. Suasana itu tidak didapatkan pada tahun ini. Hadirnya pandemi yang dirasakan di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Gifu, memaksa segala macam bentuk kegiatan yang melibatkan banyak orang, harus ditiadakan. Kesedihan, wajar jika juga dirasakan oleh kami yang tinggal di prefektur ini. Tetapi tetap berharap, dan pastinya tetap yakin bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mempunyai skenario yang paling indah.

Ada banyak cara untuk mencoba “mengobati” diri sendiri, salah satunya berbagi cerita bersama teman dan orang-orang yang sudah lama menetap di negara ini. Ternyata, dibalik kesedihan yang dirasakan, ada kenikmatan lain yang diperoleh. Bagi yang sudah berkeluarga, kesempatan untuk sholat berjamaah setiap waktu bersama keluarga menjadi kebahagiaan tersendiri. Pun anak-anak yang biasanya tetap masuk sekolah, pada Ramadhan tahun ini, diliburkan karena pandemi. Keluhan-keluhan lelah yang biasanya mereka luapkan sepulang sekolah saat melaksanakan ibadah puasa, tidak terdengar tahun ini. Banyak juga yang selama ini merasa berat dalam mengkhatamkan Al-quran, di Ramadhan tahun ini menjadi hal yang sangat ringan dilakukan. Semoga latihan perbaikan rutinitas yang telah kita upayakan ini, meski sulit dapat memberikan pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, apresiasi baru dalam segala hal, kesempatan dan kelapangan gerak yang selama ini kita miliki akan lebih kita rasakan nantinya.

Penulis: Aznelya Susila H. (WNI yang tinggal di Gifu)
Editor: Yunalia Muntafi