Buka Puasa Ramadhan di Masjid Gifu

Bulan Ramadhan di Jepang kali ini terasa lebih spesial dari biasanya, karena Jepang telah melalui masa pandemi yang begitu berat. Sampai saat ini masyarakat Jepang masih terbiasa menggunakan masker dalam kesehariannya. Bahkan ruang-ruang kelas sering kali membiarkan pintu dan jendelanya terbuka untuk menjaga sirkulasi udara agar tetap segar. Ramadhan tahun sebelumnya Masjid Gifu masih melakukan pembatasan sosial yang cukup ketat, sehingga aktifitas Ramadhan terasa sunyi dan sepi, bahkan untuk melakukan sholat berjamaah pun dibatasi untuk menghindari kerumunan dalam jumlah besar yang tak lain bertujuan untuk menekan jumlah penyebaran Covid-19.

Ramadhan tahun ini sangat spesial karena setelah 3 tahun berjuang melalui masa sulit pandemi Covid-19 mulai dari tahun 2020, kemudian 2021 dan 2022. Akhirnya di tahun 2023 aturan pembatasan sosial berskala besar pun di cabut, status penyakit yang sebelumnya pandemi berubah menjadi endemi, sholat yang tadinya terbatas dan berjarak lebih dari 1 meter, sekarang sudah kembali dibuka dan ber-shaf rapat. Berkumpul yang tadinya dilarang, alhamdulillah saat ini sudah diperbolehkan. Ramadhan penuh dengan keberkahan, Bulan suci tahun ini memecah rindu umat islam di Gifu untuk kembali berkumpul dan beribadah bersama.

Momentum Ramadhan kali ini tidak disia-siakan oleh PPI Gifu untuk mengambil bagian dalam turut melayani, memuliakan dan membahagiakan Jamaah masjid Gifu. PPI Gifu Bersama dengan KMI (Keluarga Muslim Indonesia) Gifu bekerjasama dalam menyediakan ifthar (makanan buka puasa) untuk jamaah Masjid Gifu. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 18 Ramadhan yang bertepatan pada 9 April 2023. PPI Gifu dan KMI Gifu bekerjasama dalam menyukseskan acara buka puasa ini. Musyawarah perdana dilakukan di Masjid Gifu sekitar 10 hari sebelum acara, kemudian disepakati kesempatan buka bersama ini akan disiapkan 400 porsi dengan menu kare ayam. Dengan mengucap bismillah, berharap penuh pada pertolongan Allah SWT untuk mencukupkan jumlah donasi yang dibutuhkan.

Persiapan memasak dalam jumlah besar sudah dimulai sejak tiga hari sebelumnya, pembagian tugas dibagi menjadi tiga tim, ada tim LECIP, tim kaikan dan tim utama di Hanamaza pan. Pembagian tempat masak ini guna menurunkan intensitas kesibukan dari persiapan memasakanya. Tim LECIP mendapat bagian memotong sayur sayuran, tim kaikan bagian memotong daging ayam, buah dan tempe. Bagian terbesar ada di dapur Hanamaza Pan, yaitu menyelesaikan bumbu kalio, membuat acar, memasak nasi uduk dan membuat pizza. Pembagian tugas cukup merata, hampir seluruhnya mendapatkan tugas untuk ambil bagian membantu menyelesaikan setiap pekerjaan memasak ini.

Menjelang hari Ahad, semua berdoa, agar makanan yang dibuat untuk jamaah mendapatkan respon positif dan makanannya habis tanpa sisa. Karena perjuangan untuk memberikan terbaik untuk jamaah seluruh tenaga telah dikerahkan. Hingga tiba hari Ahad, khusus laki-laki datang ke masjid pukul 9 pagi, untuk membersihkan dan mempersiapkan tempat buka puasa. Untuk yang perempuan datang jam 4 sore untuk menyiapkan hal yang sama. Setelah waktu dzuhur berlalu, makanan yang dimasak di tiga tempat tadi berangsur diantarkan ke dapur masjid dan dipanaskan kembali. Memasuki waktu ashar, pertolongan Allah SWT semakin banyak. Makanan-makanan untuk ifthar semakin banyak berdatangan. Dari keluarga Indonesia mendapat tambahan makanan ringan, dari keluarga Malaysia mendapat tambahan karipap, agar-agar, dan gorengan, dari keluarga Jepang ada bubur ayam. Makanan ringan ini disajikan saat ifthar.

Saat adzan maghrib berkumandang, seluruh jamaah meraih kurma sebagai pembukanya dan sebagian meneguk air sembari melepas dahaga. Makanan kedua sebagian memilih buah, karipap dan tempe. Tempe ternyata sangat disukai oleh hampir semua jamaah, bahkan sampai ada yang minta tambah. Syukur tempe tersedia melimpah, dengan ukuran yang kecil membuat tempe dapat dimakan dalam 1 atau 2 kali gigit. Sebagian penikmatnya menambahkan saus sambal untuk mendapatkan sensasi pedas. Setelah selesai makan buka puasa dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah bersama Imam Syech Obari.

Makanan khas Indonesia dengan cita rasa yang sedikit disesuaikan agar disukai oleh semua lidah dari berbagai bangsa dan negara, maka jadilah Nasi Uduk Ayam Kalio. Nasi uduk dengar khas rempah dari Indonesia membuat nasinya memiliki rasa yang gurih dan lembut ditambah kalio ayam yang kental dengan kuah kare rempahnya membuat semua orang yang mengambil suapan pertama akan terus makan. Sedikit acar diantara nasi dan kalio turut melengkapi makanan itu lebih enak. Para jamaah sangat menikmati makanannya dan melahapnya hingga habis tak tersisa.

Hingga selesai buka puasa hampir seluruh jamaah menghabiskan makanannya hingga tak bersisa. Sedikit lauk yang tersisa di panci diminta oleh jamaah untuk mereka berikan kepada keluarga dirumah agar turut merasakan nikmatnya makanan Nasi Uduk Ayam Kalio. Respon positif dan tidak menyisakan makanan adalah indikator kesuksesan buka puasa bersama ini, maka keberhasilannya tentu adalah karena banyaknya pertolongan Allah SWT dan kontribusi terbaik dari seluruh tim yang terlibat. Baik tim dapur di Hanamaza Pan, tim dapur di kaikan, Tim dapur di LECIP dan seluruh anggota PPI Gifu maupun anggota KMI Gifu.

Akhirnya, semoga Allah SWT menerima amalan-amalan terbaik yang dilakukan selama bulan Ramadhan, dan terhadap apa yang dikorbankan menjadi pemberat timbangan amalan baik di yaumul hisab kelak. Sampai jumpa di Buka Puasa Tahun 2024.

Penulis : Wingki May Hendra

Editor : Adityawan Sigit