National Scholars Talk: Ngobrol Perjalanan Kuliah (Beasiswa dan kehidupan) di Jepang

Kegiatan National Scholars Talk ini diselenggarakan atas kerja sama dan diinisiasi oleh Ikatan Mahasiswa Masjid Kampus (IMMAM), Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan Persatuan Pelajar Indonesia Komsat Gifu di Jepang. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 14 Febuari 2024 melalui media online zoom meeting. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 50 orang yang sebagian besar adalah mahasiswa UBT dan beberapa mahasiswa yang berasal dari kampus di Indonesia seperti Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, IPB University, serta masyarakat umum.

Webinar mengambil berjudul WEBINAR BEASISWA: NATIONAL SCHOLARS TALK “Sukses Raih Beasiswa Dalam dan Luar Negeri: Pelajari Rahasianya di Webinar ini!”. Keinginan melanjutkan jenjang pendidikan di kalangan mahasiswa Indonesia dari sarjana menuju master tidaklah terlalu tinggi. Hal ini terlihat dari rasio dari jumlah mahasiswa pascasarjana dan jumlah lulusan yang dikeluarkan oleh kampus setiap tahunnya. Keinginan melanjutkan sekolah kadang kala perlu ada motivasi, semangat, finansial dan dukungan dari luar, baik keluarga ataupun teman. Tingkat pendidikan seringkali disinergikan dengan tingkat kesejahteraan di masa depan, meskipun memang jalan hidup dan takdir telah ditetapkan Allah SWT. Maka, webinar ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada peserta bahwa cita-cita menempuh pendidikan di luar negeri bukanlah sesuatu yang sulit, atau hanya bisa diraih oleh orang-orang yang pintar, atau yang memiliki kemampuan finansial lebih, tetapi juga bisa diraih oleh mereka yang biasa-biasa saja, berasal dari keluarga menengah ke bawah, dan/atau memiliki keterbatasan kemampuan bahasa. Di webinar ini, rahasianya dibahas.

Menempuh pendidikan di Jepang atau luar negeri menjadi daya tarik tersendiri bagi teman-teman dari IMMAM UBT, sehingga terselenggaralah kegiatan kolaborasi ini dengan lancar dan sukses. Kegiatan ini disampaikan oleh Saat Egra dan Andhika Januardyh. Saat Egra merupakan mahasiswa doktoral Universitas Gifu, Jepang. Beliau merupakan salah satu penerima beasiswa MEXT Scholarship dari Kementrian Pendidikan, Budaya dan Teknologi Jepang. Sedangkan Andhika merupakan Mahasiswa UBT yang juga sekaligus penerima Beasiswa Pertamina Foundation.

Webinar ini dimulai pukul 21.15 JST dengan dimoderatori oleh Nur Adha Febrianti. Peserta yang hadir lebih dari 50 peserta dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, dosen, dan juga masyarakat umum. Materi Saat Egra dibagi menjadi empat bagian; Perkenalan (Personal, Kota Gifu, dan PPI Gifu), pengantar beasiswa (mengapa memilih beasiswa Jepang?), jenis-jenis beasiswa yang ada pada pamflet Japan Student Services Organization (JASSO), dan jenis beasiswa yang dapat diakses sesuai kondisi mahasiswa saat ini. Empat bagian ini menjadi alur presentasi yang menarik sehingga timbul lebih dari 10 pertanyaan. Ada satu pertanyaan yang menarik, yaitu dari saudara Ganang Utara. Beliau merupakan siswa dari SMA Negeri 2 Tarakan. Beliau bertanya tentang beasiswa orang asing yang ingin sekolah sarjana di Jepang. Peluang ini tentu ada, bahkan terbuka lebar bagi siapa saja, baik melalui MEXT Scholarship G to G atau beasiswa private lainnya. Namun disisi lain, untuk bisa mendapatkan dan melaluinya tidaklah mudah, sangat berat bahkan. Ketika telah diterima, kelasnya pun menggunakan sepenuhnya Bahasa Jepang. Sejauh ini mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan S1 di Jepang sangat sedikit. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengambil pascasarjana, baik program magister atau doktor. Namun, sebagai penyemangat kami sampaikan bahwa pendidikan sarjana di Indonesia tidak kalah bagus kualitasnya untuk keilmuan dan pengembangan diri.

Pengembangan diri dan keahlian bersosialisasi mungkin akan sulit didapatkan ketika menempuh pendidikan sarjana di Jepang. Hal ini karena orientasi berorganisasi di Jepang tidak se-intens mahasiswa di Indonesia. Izinkan kami mengutip dari Anies Baswedan, “IPK yang tinggi itu hanya mengantarkan sampai meja wawancara. Namun, sukses pasca wawancara ditentukan oleh kemampuan analisa, kepemimpinan, dan inovasi atau keaktifan di organisasi dan lembaga kemahasiswaan.” Hal inilah yang kami dorong untuk setelah menyelesaikan sekolah sarjana barulah pergi sekolah master kemanapun yang engkau mau, tak harus ke Jepang, bisa ke benua Eropa, Australia, Amerika, ataupun negeri China. Saat kamu sekolah di luar negeri, kamu bisa melihat Indonesia dari jauh, betapa indahnya negeri ibu pertiwi dari berbagai sisi. Bawa pengalaman yang dipelajari di luar untuk pulang membangun tanah air tercinta.

Selain berbagi informasi berkaitan beasiswa dan peluang-peluang yang bisa diambil melalui jalur-jalur yang kadang tak banyak orang tahu, kami juga berbagi carita tentang kehidupan seorang muslim di lingkungan Jepang, khususnya di kampus. Ada 3 hal yang perlu sangat diperhatikan bagi seorang muslim di Jepang agar tetap berada dalam perlindungan dan pertolongan Allah SWT yaitu; makanan, pekerjaan, dan pertemanan. Makanan halal akan mengantarkan kita pada kemudahan dan terkabulnya doa-doa. Sebaliknya, makanan haram akan mengantarkan kita pada timbulnya berbagai masalah, dan dekatnya dengan kemaksiatan (Al Baqarah 168, HR Muslim 1015, At-Tirmizi 2989, Ad-Darimi 696, Ahmad 2/328 dan Al-Baihaqi Asy-Syu’ab 1118). Pekerjaan sebaiknya pilih tempat pekerjaan yang memudahkan kita menjalankan ibadah dengan tepat waktu atau seminimalnya bisa mengerjakan sholat, jangan sampai kita memudahkan syariat sholat ini sehingga menggabungkan 2 waktu sholat dalam sekali waktu sholat. Selain itu, sebaiknya tidak ada bahan atau hal yang diharamkan dalam Alquran di tempat kerja tersebut.

Barkaitan dengan pertemanan, kami menganjurkan untuk tidak terlalu mengikuti hal-hal yang melampaui batas dari gaya pergaulan masyarakat Jepang seperti nomikai. Nomikai merupakan kegiatan berkumpul dan minum alkohol Bersama. Biasanya kegiatan ini dilakukan ketika ada perayaan tertentu. Sebagai seorang muslim yang taat terhadap aturan Allah SWT dan Rasul-Nya, ada Batasan-batasan yang perlu dijaga agar tidak melampauinya. Pengalaman kami adalah, ketika satu kali diajak untuk kegiatan demikian, sejak awal harus berani mengatakan tidak, dan dijelaskan alasan mengapa menolak dengan santun. Kami beberapa kali betemu dengan kasus serupa yang membuat kami harus teguh terhadap pendirian ketaqwaan, namun tak sekalipun kami dapati kawan Jepang atau sensei yang memarahi kami. Justru yang kami dapati adalah mereka sangat-sangat menghargai keinginan kami dalam menjalankan kepercayaan dengan sepenuhnya.

Demikian keseruan dan kehangatan webinar beasiswa kali ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas undangan dan kerjasamanya dari Ikatan Mahasiswa Masjid Kampus UBT. Semoga apa yang sudah dilakukan menjadi amal kebaikan yang diterima oleh Allah SWT dan mengalir pahalanya untuk kedua orang tua kita. Semoga teman-teman pendengar juga selalu terjaga kesehatannya, panjang umurnya, dan sukses dalam karirnya. Aamiiin.

Penulis: Saat Egra

Editor: Adityawan Sigit