Juli 2015, Meskipun sakura sudah gugur, bulan April di Jepang masihlah musim semi atau Haru. Tiap tahunnya di musim semi Gifu Daigaku, akan mengadakan festival musim semi atau yang biasa disebut Harusai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, harusai biasanya digelar di halaman kampus gifu, dengan panggung ukuran 4 x 6 m dipersiapkan untuk penampilan baik menari maupun bernyanyi,

Selain itu ada juga stand-stand yang telah berdiri dengan berbagai macam dagangannya untuk turut meriahkan harusai, tidak ketinggalan para pelajar dari Indonesia (PPI Gifu) ikut juga memeriahkan acara Harusai dengan berpartisipasi untuk membuka stand, dimana PPI Gifu menyediakan makanan khas Indonesia dan aksesoris buatan sendiri khas Indonesia. Sayang sekali, tahun ini kita tidak berkesempatan untuk tampil. Pembukaan Harusai pada hari Sabtu, 16 Mei 2015 disambut dengan turunnya hujan, tetapi walaupun hujan membasahi bumi, kita tetap semangat untuk mendirikan tenda dan menyiapkan stand dan menyiapkan masakan yang akan dijual.


Setelah tenda dibangun, Kak Didi dengan baik hati menawarkan sarapan Risoles Pisang Coklat kepada kita semua, sehingga menambah semangat pagi dalam memulai aktivitas. Harusai kali ini, PPI Gifu menyiapkan Mie Ayam buatan Babe Ali dan Risoles Sayur buatan Kak Didi. Mmmm Syedaaap,,, Harga satu buah risoles dijual 100 ¥ per buah dan Mie Ayam dijual dengan harga 500 ¥ per porsi. Risoles buatan Kak Didi sangatlah laris manis, hari itu jam belum belum menunjukkan pukul 12.00 WGJ (waktu gifu jepang) risoles sudah terjual lebih dari setengahnya, tidak hanya laris dibeli oleh para pelajar Indonesia yang kelaparan saat menjaga stand tetapi tentunya juga laris dibeli oleh para pelajar Jepang dan negara lain, malah ada sampai yang membelinya tiga kali berturut-turut ada yang membeli sampai tiga, bahkan lima biji dan juga para warga Jepang ditantang untuk memakan risoles menggunakan saus sambal yang super pedas. Tidak kalah dengan risoles, Mie Ayam juga terjual laris manis, Para Warga Jepang ditantang untuk memakan Mie Ayam menggunakan saus sambal pedas, atau menggunakan kecap manis. Ternyata, banyak yang memilih untuk memakan Mie Ayam menggunakan kecap manis daripada yang menggunakan sambal pedas. Sampai Harusai hari pertama berakhir, ada pengunjung yang bertanya risoles masih akan dijual esok hari atau tidak, karena ia telah kehabisan risoles.


Kemudian, di hari kedua Minggu 17 Mei 2015, para pelajar Indonesia sepakat untuk menggunakan batik sebagai dress code di hari kedua ini. Mie Ayam dan Risoles terjual lebih cepat daripada hari pertama, karena saking tidak sabarnya para pembeli menantikan masakan buatan Indonesia ini. Biarpun tahun ini Indonesia tidak ikut memeriahkan pentas, tetapi pelajar Indonesia tetap semangat mengikuti acara, dengan ikut bergembira dan berjoged bersama di bawah arahan Kak Yana.

Penutupan Harusai ditutup dengan, permainan BINGO. Semua yang hadir diberikan kartu bingo oleh panitia, dan dengan penuh keyakinan kami semua ikut bermain berharap salah satu diantara pelajar Indonesia bisa mendapatkan hadiah. Hadiah pertama gagal, kedua gagal, ketiga gagal, keempat gagal juga sampai di hadiah terakhir, tidak satupun dari kami yang berhasil membuat satu garis dan BINGO. yah.. belum rezeki mungkin bagi kami semua. Akhir kata, Terima Kasih kepada semua keluarga Indonesia dan para pelajar Indonesia yang ada di Gifu telah berpartisipasi dalam acara harusai ini. Semoga kedepannya PPI Gifu semakin mantap dan kompak. AYE! Writter:Firda furqoni

