Indonesia di Hashima Culture Center

Cuaca dibulan November sudah cukup dingin untuk orang Indonesia yang pada dasarnya berasal dari negara tropis. Daun-daun sudah mulai berubah warna dan berguguran. Walaupun begitu sinar matahari di siang hari masih bisa dibilang cukup hangat. Menurut orang-orang Jepang sendiri udara dingin sedikit terlalu cepat datang dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena pengaruh pemanasan global.

Jam 2 lebih 15 menit rombongan seniman dadakan alias jadi-jadian berangkat dari depan Gifu University International House. Rombongan berjumlah 3 mobil. Mobil Uda Firdaus, Mas Zuhud, dan Uda Alwis yang baru saja kembali Washington DC setelah mengikuti seminar, sedangkan ketua rombongan , Oksil, sudah lebih dahulu berangkat untuk mengurus beberapa beberapa hal terkait acara di sana. Rombongan bukan hanya membawa kemampuan seni mereka. Tetapi juga turut serta membawa pakaian tradisional yang dipinjamkan olah Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo. Selain itu mereka mereka juga membawa salah satu alat musik kebanggaan Indonesia yang terbuat dari bambu, Angklung. Mereka sampai di Hashima kurang lebih pukul 02.45. Setelah berfoto-foto di depan gedung tersebut mereka pun masuk.

Begitu sampai di dalam para seniman dadakan ini pun dipandu menuju ruang ganti yang telah disiapkan. Mereka langsung membuka kopor yang berisi pakaian tradisional dan memakainya. Saya pribadi merasa benar-benar takjub. Kalau Jepang hanya memiliki Kimono, Indonesia punya banyak pakaian adat tradisional. Karena Indonesia memang benar-benar indah dan kaya warna serta budaya. Dan ingatan saya pun melayang ke masa kecil saya. Ke masa TK ketika saya melakukan karnaval baju tradisional keliling komplek. Ketika itu saya memakai baju tradisional Jawa Tengah. Karena jumlah seniman dadakan ini terbatas dan pakaian yang tersedia banyak tidak semua dapat dipakai.

Sebelum penampilan di mulai, saya diberikan kesempatan oleh teman-teman untuk bercerita kepada penonton yang datang saat itu. Durasi waktu selama 30 menit tersebut, saya pergunakan sebaik-baiknya untuk menggambarkan Indonesia kepada hadirin. Karena saking besar dan kayaknya Indonesia, terasa sekali 30 menit itu jelas sangat kurang jika kita ingin memberikan gambaran Indonesia sebagai negara yang dijuluki Jamrud Khatulistiwa dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Setelah saya selesai memberikan persentasi, maka satu persatu tim kesenian PPI Gifu beraksi untuk menampilkan seni dan budaya Indonesia. Silahkan cek video-video di bawah ini untuk merasakan betapa meriahnya acara tersebut dengan semangat merah putih.

 

 

Setelah menyelesaikan beberapa penampilan, para seniman ini beramah tamah dengan para tamu yang datang hadir menyaksikan. Para seniman ini mendapat apresiasi yang baik dari para orang Jepang. Dari beberapa penampilan tersebut yang paling mendapat apresiasi tertinggi adalah Randai dari Sumatra Barat.

Setelah beramah tamah acara dilanjutkan dengan tari bersama yang juga tentu saja berasal dari Indonesia. Tari yang bisa dilakukan bersama-sama dan juga sering dilakukan di acara-acara tertentu. Ada yang satu cerita menarik. Ada yang bilang, di akhir masa jabatan Presiden Soeharto ketika para mahasiswa berdemo berhadap-hadapan dengan polisi begitu musik tari ini diputar mereka langsung berdansa bersama-sama dan bentrokan pun terhindarkan. Apa nama tari itu? Tari itu adalah tari Poco-poco. Tari yang diiringi lagu dengan bahasa daerah Manado.

Hampir semua tamu yang datang hari itu ikut menari. Dipandu oleh Mas Zuhud dan semua seniman dadakan ini mereka semua ikut menikmatinya. Walaupun gerakannya sederhana para orang Jepang pun merasa panas. Mungkin jadi olahraga juga untuk mereka.

Selain itu disela-sela acara ramah-tamah para tamu juga tertarik dengan Angklung. Mereka bertanya-tanya bagaimana cara memainkannya. Bukan hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa juga merasa penasaran dengan alat musik tersebut. Sambil saya jelaskan dan mereka pun menyentuh dan mencoba memainkannya.

Saya merasa bangga bisa menjadi salah satu delegasi bangsa. Ikut memperkenalkan kekayaan budaya warisan nenek moyang. Melihat warna warni pakaian adat dan berbagai tari dan nyanyian ditampilkan dihadapan orang-orang Jepang. Bangga dan bersyukur menjadi salah satu manusia yang dilahirkan di kepulauan yang sekarang di sebut Indonesia.

 

Penulis : Fajar S

Editor : Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *