Indonesia & Japan Culture Exchange

Pada hari Minggu 11 Juni 2023, Persatuan Pelajar Indonesia Gifu (PPI Gifu), diundang untuk menghadiri acara Indonesia & Japan Culture Exchange di Ichihashi Community Center, Gifu. Peserta acara ini adalah PPI Gifu selaku perwakilan komunitas warga Indonesia dan warga kota Gifu yang dikoordinir oleh Kawai-san (Ibu Kawai) dan Matsuoka-san (Bapak Matsuoka). Tujuan dari acara ini adalah memberikan kesempatan saling mengenal budaya antar negara Indonesia dan Jepang. Masing-masing perwakilan negara dipersilakan untuk menampilkan kebudayaan dalam berbagai bentuk. Kebudayaan yang ditampilkan antara lain seni pertunjukan, seni rupa, dan kuliner.

Persiapan acara pertukaran budaya dimulai dari pertengahan bulan Mei 2023. Perwakilan PPI Gifu bertemu terlebih dahulu dengan Kawai-san dan Matsuoka-san untuk membahas susunan dan teknis pelaksanaan acara. Dari hasil pertemuan, PPI Gifu mendapat arahan yang jelas untuk menampilkan berbagai jenis kebudayaan Indonesia. Jenis kebudayaan yang disepakati untuk ditampilkan adalah seni Angklung, pakaian, dan makanan khas Indonesia.

Seluruh persiapan baik untuk pertunjukan dan persiapan kuliner berjalan lancar. Di tengah kesibukan sebagai pelajar dan bekerja patuh waktu (arubaito), rekan-rekan PPI Gifu masih bersedia meluangkan waktunya untuk berlatih dan menata persiapan. Pada seni Angklung, ini adalah pengalaman pertama bermain angklung bagi mayoritas rekan-rekan PPI. Dengan mempelajari teknik dari internet secara otodidak. Pada makanan khas Indonesia, rekan-rekan PPI menyiapkan Nasi Tumpeng, Mie Goreng, dan Dadar Gulung satu hari sebelum acara. PPI Gifu bersepakat untuk hadir di acara dengan menggunakan pakaian batik demi mempersiapkan penampilan terbaik untuk mengenalkan budaya Indonesia pada warga Jepang.

Acara dimulai pada pagi hari pukul 10.00 JST. Lokasi acara berlangsung di ruang pertemuan lantai dua Ichihashi Community Center Gifu. Perkiraan peserta acara sekitar 30 orang peserta. Setelah acara dibuka oleh Kawai-san selaku pembawa acara, PPI Gifu dipersilakan menampilkan pertunjukan Angklung. Pada akhirnya PPI Gifu bisa menampilkan seni angklung dengan membawakan total 5 lagu dalam waktu 20 menit. Lagu yang ditampilkan yaitu: Ibu Kita Kartini, Bengawan Solo, Can’t Help Fallin’ in Love, Kimi Gayo, dan, Ue O Muite. Setelah PPI Gifu selesai menampilkan Angklung, penampilan selanjutnya adalah dari musisi Jepang. Tim musisi terdiri dari dua personel: satu pemain gitar dan satu pemain saksofon. Usai musisi selesai memainkan semua lagu, salah satu aktivis sosial di Ichihashi Community Center Gifu menjelaskan seni rupa khas Jepang. Seni rupa yang dijelaskan yaitu kerajinan keramik, origami, dan kain khas Jepang. Usai penampilan seni dan budaya, acara dilanjutkan dengan pengenalan makanan khas Indonesia dan Jepang. PPI Gifu mengenalkan makanan khas Nasi Tumpeng, Mie Goreng, dan Dadar Gulung. Warga Jepang mengenalkan makanan berupa sushi. Seluruh peserta acara dibagi dalam 5 kelompok acak untuk memudahkan pembagian makanan, sehingga peserta acara dapat menikmati makanan dari tiap negara.

Secara keseluruhan, acara pertukaran budaya berjalan dengan lancar. Seluruh peserta nampak antusias menyimak lagu yang dibawakan rekan-rekan PPI Gifu. Mereka kagum dengan kekompakan dan harmoni permainan musik Angklung dan menanyakan bagaimana metode berlatih untuk mengatur tatanan musik dengan jumlah personel yang cukup banyak. Begitu juga dengan PPI Gifu yang tertarik mengenal kesenian khas Jepang. Saat makan siang, terjadi perbincangan yang lebih erat antar dua negara sambil menikmati kelezatan makanan dengan citarasa khas tiap negara.

Dari acara pertukaran budaya ini, masing-masing pihak Indonesia dan Jepang tampak tertarik untuk mengenal dan memahami budaya antar negara. Bahkan saat tim perwakilan PPI Gifu datang ke lokasi acara diminta untuk mengajarkan salam dan sapaan dalam Bahasa Indonesia. Banyak persamaan budaya sopan santun antara Indonesia dan Jepang, sebagai contohnya adalah menyapa saat saling bertemu. Budaya Indonesia adalah budaya luhur yang harus terus dilestarikan seiring berjalannya zaman.

Penulis: Abram Anggit Mahadi

Editor: Adityawan Sigit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *