
Pada tanggal 5 November 2023, Persatuan Pelajar Indonesia Gifu, Jepang (PPI-Gifu) menjadi pusat perhatian di Festival Gidaisai Universitas Gifu ke-75, menampilkan pertunjukan memukau yang selaras dengan kekayaan budaya dan harmoni musik.
Gidaisai, sebuah festival tahunan di Universitas Gifu, memberikan gambaran perayaan yang semarak setiap musim gugur. Ekstravaganza tahun ini menampilkan serangkaian kegiatan yang menyenangkan, termasuk mock store & flea market yang memiliki 27 stan unik, kompetisi olahraga seru yang mencakup pertandingan softball, bola voli, dan bulu tangkis, serta beragam pertunjukan indoor dan outdoor.

Di tengah beragamnya aktivitas, PPI-Gifu dibawah bimbingan dosen Suzuki Yoshitaka, tampil pada pertunjukan outdoor dengan membawakan alunan musik angklung yang memukau ke dalam festival. Dipimpin oleh konduktor Adityawan Sigit, gitaris Abram Anggit Mahadi, dan MC Bagus Himawan Wicaksono, 16 pemain angklung berbakat menciptakan suasana magis dengan membawakan lagu-lagu klasik, termasuk “Bengawan Solo” oleh Gesang dan “Ue Wo Muite Arukou” oleh Kyu Sakamoto.

Nada angklung yang khas dan bergema, alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari tabung bambu, memenuhi udara, memikat penonton dan menumbuhkan suasana pertukaran budaya.
Partisipasi PPI-Gifu tidak hanya sekedar panggung, teman-teman juga mengundang pengunjung festival untuk bergabung dalam perayaan musik. Lebih dari 60 buah angklung dibagikan kepada penonton yang antusias, yang disuguhi sesi interaktif yang dipandu oleh konduktor.
Dipimpin oleh konduktor, penonton mempelajari dasar-dasar isyarat tangan – do, re, mi, fa, sol, la, si, do – sebelum secara kolektif memainkan angklung dengan lagu-lagu ikonik seperti “Can’t Help Falling in Love” oleh Elvis Presley dan “Do-Re-Mi” dari film musikal Julie Andrews, “The Sound of Music.”

Partisipasi PPI-Gifu dalam Festival Gidaisai menunjukkan kekuatan musik untuk menjembatani budaya dan memupuk persatuan. Nada-nada angklung yang menggema tidak hanya menampilkan keindahan warisan Indonesia, namun juga memberikan pengalaman unik dan memperkaya bagi beragam penonton yang hadir.
Ketika melodi Bengawan Solo dan Ue Wo Muite Arukou bergema di seluruh area festival, menjadi jelas bahwa penampilan PPI-Gifu tidak hanya menjalankan misi Persatuan Pelajar Indonesia-Jepang (PPIJ) dalam memprakarsai kebudayaan Indonesia di Jepang saja—ini adalah perayaan keberagaman, pertukaran budaya, dan bukti keharmonisan diatas perbedaan.
Dalam semangat Gidaisai, partisipasi PPI-Gifu menjadi pengingat bahwa, apapun latar belakang kita, musik memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang, menumbuhkan pemahaman, apresiasi, dan kegembiraan.

Penulis: Adityawan Sigit

