Kita seakan cepat berlari mengejar mimpi, sampai lupa menikmati waktu, lupa bahwa orang-orang disekitar kita tak kan selamanya ada, mungkin mimpi bukan untuk dikejar, dan kita tak perlu berlari, lagi pula bukankah berlari hanya memudahkan kita terjatuh? Nikmati prosesnya sembari berjalan, pelan-pelan yang penting sampai. Lalu, sesekali kita perlu menepi, untuk sejenak menyepi. Kesebuah tempat terpencil, tanpa perlu merasa terkucil, menemukan damai, saat jauh dari ramai. Musim panas telah datang, ini saatnya para pendaki atau hanya sekedar penikmat alam baik warga lokal maupun touris mulai mempersiapkan peralatan pendakiannya menuju puncak Gunung Fuji yang terletak ditengah Prefektur Yamanashi dan Shizuoka dengan ketinggian 3,776 meter diatas permukaan laut. Bersama rekan-rekan PPI Gifu, kita berinisiatif untuk melakukan pendakian pada musim panas ini dengan persiapan satu bulan sebelum pendakian, seperti latihan fisik jogging dan menjaga kesehatan agar terhindar dari cedera saat pendakian. Selain itu, peralatan-peralatan penting pendakian dipersiapkan satu minggu sebelum mendaki, seperti tas carrier, sepatu gunung (guna menghindari cedera kaki), jaket, kaos kaki tebal, jas hujan, baju dan celana heatech, tracking pole, headlamp (guna mengejar summit pada jam 2:30 AM), topi (guna terhindar dari sengatan matahari), buff (agar wajah tidak kering dan mengelupas), dan kacamata agar terhindar dari debu.



Perjalanan pun dimulai pada sore hari dengan menggunakan bus dari Universitas Gifu, lalu dilanjutkan menuju stasiun Nagoya menggunakan kereta api. Langit saat itu memerah, lalu gelap menghampiri, istirahat sejenak mengisi perut yang sudah kosong, dan membeli makanan ringan untuk dimakan nanti saat perjalanan malam menuju titik tujuan. Tas carrier pun telah masuk dalam bagasi bus dengan harga tiket 4,500 yen, lalu pelan-pelan bapak supir memainkan pedalnya bertolak ke Prefektur Yamanashi pada jam 23:10 PM menggunakan bus Meitetsu. Perjalanan ditempuh kurang lebih empat setengah jam dan sampai pada pagi hari di Stasiun Fujikawaguchiko. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju stasiun 5 menggunakan bus yang telah dikelola baik oleh pemerintah untuk para pendaki/wisatawan, dan mengganti pakaian serta sarapan pagi sebelum pendakian. Pada musim tersebut para pendaki sangat ramai, dibuktikan dengan sesaknya manusia di dalam bus menuju stasiun 5. Hal ini dikarenakan pemerintah Jepang sebelumnya telah menutup pendakian Gunung Fuji kurang lebih selama 2 tahun yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 yang mewabah di seluruh penjuru dunia. Syahdan, gerak langkahpun dimulai, hal pertama yang harus dilakukan adalah registrasi di pintu masuk pendakian Yoseda Track (jalur yang sangat umum bagi pendaki awam), agar nama-nama dan jumlah pendaki terdata oleh pengelola. Tepat pukul 11:00 AM pagi hari, pendakian pun dimulai dan disambut dengan cuaca yang cerah seakan Fuji mengucapkan selamat datang dipunggungannya, walau pasir-pasirnya seakan tidak rela diinjak oleh ratusan manusia. Ya, manusia yang datang tidak hanya rekan-rekan PPI Gifu saja, saudara-saudara kita dari gen Kaukasoid, Mongoloid, Negroid, Autraloid, dan ras khusus, juga datang menyambangi puncak tertinggi di Jepang ini. Menariknya kita bertemu dengan sekelompok pendaki asal Indonesia dengan usia yang tidak muda lagi, berkisar antara 45-60 tahun yang masih semangat untuk menggapai puncak.


Selama pendakian selalu ditemani roti atau minuman segar jika lelah melanda, sesekali candaan kecil atau curhatan segar silih berganti menemani. “Bukankah mendaki gunung itu tujuannya untuk mencapai pucak?” Kadang tanggapan tersebut diminati banyak orang, akan tetapi sebagian orang lagi bertujuan untuk mengenal lebih dalam seseorang, mempererat keakraban sesama teman, menyadari diri kita itu kecil, bertemu orang-orang baru, dan bonusnya menikmati keindahan alam yang diciptakan sangat indah oleh Tuhan. Perjalanan pun dilanjutkan, walau langkah kaki semakin berat dan suhu dingin mulai menusuk hingga epidermis kulit. Waktu pun berlalu, kita tiba di stasiun 8 pada pukul 2:40 PM, dimana pada stasiun ini tempat kami menginap malam ini yaitu di penginapan Hakuun-so yang berada pada ketinggian 3200 m dpl. Syahdan, melakukan check-in di penginapan tersebut dan segera masuk ke kamar-kamar yang telah disediakan oleh pengelola penginapan. Tepat pukul 4:30 PM makan malam pun dihidangkan, mulai dari vegetable curry, makan pembuka dan penutup disajikan serta lauk pauk yang telah kita masak di rumah masing-masing. Hal ini telah kita pahami sedari awal bahwa sangat sulit bagi pihak pengelola untuk menyajikan makanan halal untuk pendaki muslim. Dinginnya Fuji sore itu seakan tergantikan dengan kehangatan perbincangan yang diberikan oleh pemandu yang mengetahui kita berasal dari Indonesia, karena salah satu dari mereka pernah berkunjung ke Indonesia dan mengetahui keragaman makanan disana.




Tepat pukul 2:00 AM, alarm handphone pun berdering, lalu kita bersiap-siap untuk sarapan pagi, dan melakukan summit attack pada pukul 2:30 AM. Pagi hari yang teramat pagi itu cuaca sangat indah dengan bulan yang seakan menepi di puncak Fuji, bintang-bintang pun tak ingin ketinggalan memberikan sedikit cahayanya menemani para pendaki. Kaki ini terus berjalan walau pelan menuju puncak agar badan selalu hangat dan terhindar dari hipotermia atau penyakit ketinggian lainnya. Topografi saat summit attack sedikit terjal dengan kontur tanah yang dimodifikasi zig-zag oleh pengelola, dan juga tipe tanah yang berpasir sedikit menyulitkan pendaki saat berjalan. Disamping itu, ratusan pendaki bak kunang-kunang di malam hari yang memiliki warna cahayanya masing-masing melalui medan yang cukup rumit dan mengantri menuju puncak Fuji. Kunang-kunang tersebut terus menyala menuju puncak tanpa meredupkan cahaya lainya, terus berjalan, saling sapa, saling transfer nutrisi, dan bercerita indah masa lalu. Kemudian, tepat pukul 4:00 AM kita sampai di pucak Gunung Fuji dan tampak beberapa pemukiman penduduk masih terang ditemani lampu-lampu rumah.



Satu jam pun berselang, matahari dari ufuk timur seakan tidak malu menampakkan tubuhnya pelan-pelan kepada para pendaki meskipun dibidik tiada henti. Tepat pada moment tersebut kami dapat mengibarkan bendera Indonesia dan bendera PPI-Gifu pada ketinggian 3,776 m dpl. Rasa haru pun terbit seperti matahari yang hangat di pagi ini, dan perjalanan ini memberikan banyak pelajaran bahwa kita tidak sendiri menjalani kehidupan serta dengan kebersamaan kita menjadi lebih kuat. Syahdan, aktivitas akademik yang sedikit melelahkan, seakan berganti pemulihan pada pendakian kali ini, ketika tubuh seolah-olah diajak berinteraksi langsung dengan alam yang telah diciptaan oleh yang Maha Kuasa. Pendakian panjang bukan hanya soal kekuatan fisik semata, kita harus menjaga batin agar tetap stabil, menjaga sikap agar tidak bersinggungan dengan kawan yang lain, menjaga pemikiran agar tidak terfokus pada hal-hal buruk, dan yang pasti menjaga diri agar selamat hingga pulang nanti. Karena tujuan mendaki adalah pulang dengan selamat.
Terima kasih kawan, Muhammad Fadli, Robi Cahyadi, Abram Anggit Mahadi, Leonardo, dan Wahyu Hidayat.

Penulis : Robi Cahyadi
Editor : Adityawan Sigit