Farewell Party and One Day Tour to Shirakawa-Go

Belajar di negeri orang merupakan suatu perjuangan untuk nantinya dapat berkontribusi ke negeri sendiri. Pada periode ini, beberapa pejuang akademik telah menyelesaikan studinya. Ada enam wisudawan pada jenjang master dan enam wisudawan jenjang doktor yang berasal dari fakultas yang bervariasi. Untuk itu, PPI Gifu mengadakan acara Farewell Party sekaligus One day Tour di sekitar Gifu prefektur, 26 September 2020. Tempat-tempat yang dijadikan sebagai tujuan adalah Hirugano picnic garden, Miboroko Restaurant, Shirakawa-go, dan Takayama old town.

Tour kali ini dilaksanakan dengan menggandeng camar tour and travel sebagai penyedia fasilitas perjalanan. Sebagai pembuka, peserta tour disuguhi pemandangan di Hirugano picnic garden. Pada musim salju, tempat ini juga dijadikan arena bermain ski. Karena tour ini dilaksanakan menjelang musim gugur, pemandangan yang dapat kami lihat adalah kebun bunga-bunga yang berwarna-warni dan tanaman kochia serta bunga kosmos yang merupakan tanaman khas musim gugur di Jepang. Tanaman kochia terlihat sebagian masih hijau, sebagian kuning dan mulai memerah, sehingga adanya gradasi warna tanaman yang dijuluki “semak terbakar” inilah yang menarik perhatian wisatawan.

Lokasi tujuan berikutnya adalah Miboroko restaurant dan di tempat inilah Farewell party dilaksanakan. Selain sebagai tempat makan, Miboroko restaurant juga menjual berbagai macam snack tradisional dan souvenir. Acara farewell party diawali dengan sambutan oleh Ketua PPI Gifu, kemudian dilanjutkan pemberian kenang-kenangan secara simbolis kepada salah satu wakil wisudawan dan penyampaian wejangan dari salah satu senior di Gifu.

Perjalanan dilanjutkan ke Shirakawa-go, yaitu desa bersejarah di Jepang yang juga menjadi salah satu UNESCO’s World Heritage Sites. Desa ini terkenal akan rumah tradisional yaitu gasshō-zukuri (合掌造り) yang dicirikan dengan bentuk atap rumah yang miring dengan sudut yang lebih runcing dari atap rumah biasanya. Rumah-rumah di desa ini didesain dengan bahan atap yang unik yang ditujukan untuk menjaga kekokohan bangunan khususnya untuk menahan beban salju yang tebal pada musim dingin.

Sebagai penutup perjalanan, Takayama Old town menjadi tujuan wisata yang sempurna. Selain menyuguhkan bangunan-bangunan tradisional Jepang, di tempat ini banyak ditemukan toko kerajinan juga pusat perbelanjaan yang menjual pernak pernik souvenir khas Jepang. Di samping itu, pengunjung juga dapat melihat jembatan Nakabashi yang terbentang di aliran sungai Miyagawa. Jembatan yang berwarna merah terang ini merupakan salah satu simbol dari Takayama.

-Yunalia Muntafi-

Harusai dan LauLa 2019

Festival di musim semi yang biasa diikuti oleh PPI Gifu setiap tahun antara lain adalah Harusai dan LauLa.

Harusai merupakan adalah festival musim semi yang diadakan oleh Universitas Gifu di dalam area kampus. Haru (春) dalam bahasa Jepang adalah musim semi, sementara imbuhan “-sai” dimuat untuk artian “festival”. Pada tahun 2019 ini, Harusai diadakan pada tanggal 18 Mei. Harusai merupakan salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa-mahasiswi Universitas Gifu karena mereka bisa turut serta dalam ajang penampilan kreativitas dan seni. Selain itu, mereka juga dipersilakan untuk mendirikan stand di bazaar.

Mahasiswa Indonesia, di bawah naungan PPI Gifu, selalu ikut serta dalam Harusai, dengan menampilkan tarian di panggung maupun mengadakan stan untuk berjualan dan mengenalkan budaya Indonesia. Pada Harusai tahun 2019 ini teman-teman dari PPI Gifu menampilkan Tari Payung, Tari Indang, dan juga Poco-Poco. Sementara itu, untuk stan makanan, teman-teman mahasiswa Indonesia berjualan sate padang, cireng, risoles mayo, batagor, dan juga minuman bubble tea. Mahasiswa asing yang membuka stan di bazaar tidak hanya dari Indonesia, namun juga terlihat ada stan dari mahasiswa Thailand, Vietnam maupun China. Selain menampilkan tarian dan berjualan makanan, teman-teman PPI Gifu juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menggunakan pakaian-pakaian tradisional Indonesia. 

Setelah berpartisipasi dalam Harusai di kampus Universitas Gifu pada 18 Mei 2019, PPI Gifu kemudian juga mengikuti LauLa keesokan harinya pada 19 Mei 2019. LauLa adalah sebuah acara seni budaya yang diselenggarakan oleh International Cultural and Friendship Association (ICFA) atau 国際文化友好協会 (Kokusai Bunka Yūkō Kyōkai). Asosiasi tersebut mempromosikan aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk mengenalkan berbagai budaya internasional. Cabang ICFA Jepang mengadakan festival yang bernama LauLa yang bertajuk “International Friendship and Peace Festival” setahun sekali di markas ICFA, yaitu di Shiojiri, Nagano. Ratusan orang dari berbagai kewarganegaraan yang tinggal di Jepang menghadiri acara ini tiap tahunnya. Kata “Laula” sendiri diambil dari kosakata bahasa Hawaii.

PPI Gifu sedikitnya mengirimkan enam belas orang untuk berangkat dari Gifu menuju Nagano untuk mengikuti gelaran LauLa 2019 kali ini. Tim PPI Gifu diantar-jemput oleh panitia LauLa pada kesempatan kali ini. Pada LauLa 2019 ini, PPI Gifu menampilkan tiga jenis tarian, yakni Poco-Poco, Tari Indang, dan Tari Payung. Poco-Poco yang ditampilkan di panggung luar (outdoor) sukses membuat peserta LauLa lainnya turut berjoget mengikuti irama dipandu oleh teman-teman dari PPI Gifu. Sementar itu, dua tarian lainnya yang ditampilkan di panggung dalam gedung (indoor) mendapatkan apresiasi yang baik dari para penonton. Acara LauLa ini tidak hanya menampilkan tarian dari berbagai negara, namun juga menampilkan pertunjukan seni musik dan gerak lainnya, seperti gerakan taichi, tabuhan gendang khas Jepang (taiko), dan nyanyian. Di samping itu, terdapat pula booth untuk menulis kanji di dalam gedung tempat acara berlangsung. Secara keseluruhan, acara yang ditampilkan pada LauLa 2019 ini hampir sama dengan yang nampak pada LauLa 2018.

Akhir kata, harapan dari segenap pengurus PPI Gifu adalah agar ke depannya, PPI Gifu dapat selalu dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang memberikan kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia seperti Harusai dan LauLa ini. Tetap semangat ya, guys.

Penulis: Adam Rus Nugroho dan Putri Wulandari Zainal

Adakan Hanami, PPI Gifu Sambut “Warga Baru”

Musim semi adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh orang Jepang. Selain suhu udara yang tidak begitu dingin, di musim inilah dapat kita temui indahnya bunga sakura yang bermekaran di sepanjang jalan dengan kelopak pink yang amat cantik. Banyak orang memanfaatkan musim semi untuk bepergian bersama keluarga atau teman dan saudara untuk bersama-sama menikmati indahnya bunga sakura (hanami) sambil bersilaturahmi. Kesempatan yang baik tersebut digunakan oleh PPI Gifu untuk mengadakan hanami sekaligus menyambut “warga baru” dari Indonesia yang datang ke Gifu.

Hanami merupakan tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura yang merupakan lambang kebahagiaan musim semi telah tiba. Di samping itu, hanami juga berarti piknik dengan menggelar alas untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura. Acara Hanami merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh PPI Gifu pada setiap musim semi. Hanami kali ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 April 2019 pukul 9.00-12.00 JST bertempat di Taman Kuronoshiroato yang sering disebut dengan Kurono Park, salah satu taman terbuka yang berada di dekat kampus Universitas Gifu. Keberangkatan dilakukan bersama-sama dengan jalan dari titik kumpul di Ministop, salah satu supermarket mini yang berlokasi di dekat kampus Universitas Gifu. Jarak antara Ministop dan Kurono Park sekitar 2 kilometer. Diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi dengan berjalan kaki. Karena jalan sehat dilakukan bersama-sama sambil mengobrol, waktu tersebut tidak terasa
begitu lama. Tiba-tiba saja kami sudah sampai di lokasi Hanami tersebut. Beberapa panitia sudah standby di lokasi dan mempersiapkan perlengkapan Hanami, seperti alas terpal, alat permainan, dan tentunya hidangan, baik makanan ringan (snack) maupun makanan berat untuk disantap bersama.

Acara diawali dengan perkenalan dan sambutan oleh ketua PPI Gifu periode 2019/2020, Romy Dwipa Yamesa Away, dilanjutkan paparan tentang program kerja PPI Gifu periode kepengurusan 2019/2020 dan pengenalan Pengurus PPI Gifu periode 2019/2020. Setelah pengenalan pengurus, dilanjutkan dengan perkenalan seluruh anggota PPI dan warga baru yang dilakukan dengan permainan hitung dengan bola sehingga menambah suasana menjadi semakin meriah. Pada Hanami kali ini, ada 7 mahasiswa baru Universitas Gifu yang terdiri dari 4 mahasiswa master (Rosnalia Widyan, Ayu Anggraeni, Sri Anggreni, dan Arif Gunawan) serta 3 mahasiswa doktor (Yunalia Muntafi, Cicih Sugianti, dan Puji Lestari). Di samping itu, datang pula beberapa pelajar Nihongo Gakkou dari Nishi-Gifu. Bertambah banyaknya pendatang dari Indonesia ke Gifu, membuat kami semakin merasa di “negara sendiri”.

Setelah perkenalan, berikutnya dilanjutkan dengan acara ramah tamah, yaitu berbincang-bincang ringan sambil menikmati hidangan yang sebagian besar merupakan hasil masakan dari para mahasiswa Universitas Gifu dan keluarga. Selain makanan ringan, gorengan dan minuman, juga tersedia masakan Indonesia rumahan yang tentunya membuat rindu pada kampung halaman. Cerahnya sinar sang surya dan mekarnya bunga Sakura menambah hangatnya acara pada siang hari itu. Hal ini tampak pada raut muka para mahasiswa, khususnya bagi mahasiswa yang baru pertama kali datang ke Jepang dan baru pertama kali melihat bunga sakura secara langsung.

Di sela-sela ramah tamah, dibacakan SK keanggotaan PPI Gifu periode kepengurusan 2019/2020 oleh sekretaris PPI Gifu, Novrianti Arifin. Beberapa anggota baru dimasukkan dalam masing-masing divisi yang ada di dalam kepengurusan PPI Gifu, di antaranya divisi Akademik dan Profesi, Seni dan Budaya, Multimedia dan Dokumentasi, Jasmani dan Rohani, Dana dan Usaha, serta Humas dan Keanggotaan. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Pada akhir acara, dilakukan foto bersama dengan latar pohon sakura yang menghiasi Kurono Park.

Artikel ditulis berdasarkan cerita pengalaman salah satu warga baru “Kampung Gifu”, Yunalia Muntafi.

Gifu Taikai 2018

GiDo FC

7 Oktober 2018
PPI Gifu ikut berpartisipasi dalam turnamen sepakbola yang diadakan oleh pelajar Malaysia di lapangan bola Gifu University.
PPI Gifu diundang untuk memeriahkan pertandingan ini.
Peserta tahun ini ada 4 tim, 3 tim dari Malaysia dan 1 tim dari Indonesia (PPI Gifu).


Tim Gifu memasang strategi 4-2-3-1 dengan nama klub GiDo FC (Gifu Indonesia FC)

GK: Pak Hana, Yudhi, Audha
Bek: Pak il, Pak Gani, Faris, Irwan
Tengah: Viga, Randa, Angga, Hadi, Nanang, Krisna
Penyerang: Pak Tusi, Pak Pringgo

Sistem permainannya home away.
GiDo FC mengumpulkan poin 4
dengan skor 0-1, 1-1, 1-0, dan 0-1

Sayang sekali, tahun ini tim Gifu tidak mendapatkan juara.
Tim Gifu hanya mengumpulkan poin 4 dan menjadi tim dengan peringkat terakhir.
Semoga pada turnamen berikutnya, tim Gifu bisa lebih tangguh dan tajam.

Hari Batik Nasional

Hari ini, warga kampung Gifu ikut merayakan hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober. Keluarga PPI Gifu beramai-ramai mengenakan batik ke kampus dan berfoto bersama di depan Academic Core, Universitas Gifu. 

Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi oleh UNESCO. 

Batik adalah identitas budaya Indonesia, sudah seharusnya kita sebagai generasi muda Indonesia melestarikan dan menjaganya.