HUT RI, PPI-Gifu Adakan Festival Kuliner Indonesia

Ada yang istimewa di tahun ini, perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-74 di Gifu dilaksanakan dengan acara yang sangat meriah. Kali ini Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Gifu menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan Festival Kuliner Indonesia. Festival yang baru pertama kali diselenggarakan di Gifu ini merupakan kerjasama antara Rumah Budaya Indonesia Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo (RBI KBRI Tokyo) dengan PPI Jepang.  Acara dilaksanakan pada Sabtu, 17 Agustus 2019 di Yanagido Hall, Universitas Gifu, diawali dengan upacara bendera sederhana yang dipimpin oleh Ketua PPI-Gifu, Romy Dwipa Y. Acara kemudian dilanjutkan dengan senam poco-poco bersama dan serangkaian acara lomba khas tujuh-belasan, seperti lomba estafet kelereng, makan kerupuk, tarik tambang, dan balap karung.

Ketua Panitia, Mita, sedang memberi sambutan

Dari pintu masuk, panitia menyediakan area yang telah didesain bagi para tamu undangan untuk berfoto ria dengan tema dekorasi HUT RI ke-74 warna dasar merah-putih yang merupakan warna khas bendera Indonesia. Untuk menambah kesan tersendiri pada acara ini, panitia juga menyediakan beberapa baju adat sehingga para tamu dapat mencobanya dan berfoto langsung. Adanya photo booth ini memberikan kesan khusus dan nilai tambah bagi kemeriahan acara. Masuk area berikutnya adalah barisan menu tradisional Indonesia yang siap disantap. Pada Festival Kuliner Indonesia, para pelajar di Gifu menyajikan berbagai menu Indonesia seperti gado-gado, sate Padang, nasi goreng, bakwan, bubur kacang hijau dan es cendol. Tidak hanya orang Indonesia, tercatat lebih dari 70 orang dari berbagai negara seperti Jepang, China, Thailand, Malaysia, Peru, Rusia, dan lainnya turut hadir meramaikan acara ini. Menikmati sajian menu Indonesia mengobati penasaran mereka akan makanan khas negeri maritim dan Zamrud Khatulistiwa.

Tidak hanya mencicipi makanan-makanan khas Indonesia, para tamu juga berpartisipasi dalam berbagai lomba di acara tersebut. Mulai dari anak-anak sampai dewasa terlihat sangat antusias mengikuti lomba. Tidak sedikit dari mereka yang memenangkan lomba dan mendapat hadiah. Kemeriahan acara bertambah lengkap dengan alunan lagu-lagu kebangsaan yang diperdengarkan sepanjang acara. Alhamdulillah acara peringatan HUT RI ke-74 dan Festival Kuliner Indonesia yang dikoordinir oleh Shiamita Kusuma D. (sebagai ketua panitia) berlangsung lancar dan meriah, antusiasme para tamu dalam acara ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi panitia. Kesan dan komentar positif banyak dilontarkan oleh para tamu yang hadir. Mereka sangat menikmati seluruh rangkaian kegiatan ini dan berharap untuk rutin diadakan setiap tahun. (YM)

Galeri Makanan

Galeri Lomba

Galeri Photo Booth

Harusai dan LauLa 2019

Festival di musim semi yang biasa diikuti oleh PPI Gifu setiap tahun antara lain adalah Harusai dan LauLa.

Harusai merupakan adalah festival musim semi yang diadakan oleh Universitas Gifu di dalam area kampus. Haru (春) dalam bahasa Jepang adalah musim semi, sementara imbuhan “-sai” dimuat untuk artian “festival”. Pada tahun 2019 ini, Harusai diadakan pada tanggal 18 Mei. Harusai merupakan salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa-mahasiswi Universitas Gifu karena mereka bisa turut serta dalam ajang penampilan kreativitas dan seni. Selain itu, mereka juga dipersilakan untuk mendirikan stand di bazaar.

Mahasiswa Indonesia, di bawah naungan PPI Gifu, selalu ikut serta dalam Harusai, dengan menampilkan tarian di panggung maupun mengadakan stan untuk berjualan dan mengenalkan budaya Indonesia. Pada Harusai tahun 2019 ini teman-teman dari PPI Gifu menampilkan Tari Payung, Tari Indang, dan juga Poco-Poco. Sementara itu, untuk stan makanan, teman-teman mahasiswa Indonesia berjualan sate padang, cireng, risoles mayo, batagor, dan juga minuman bubble tea. Mahasiswa asing yang membuka stan di bazaar tidak hanya dari Indonesia, namun juga terlihat ada stan dari mahasiswa Thailand, Vietnam maupun China. Selain menampilkan tarian dan berjualan makanan, teman-teman PPI Gifu juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menggunakan pakaian-pakaian tradisional Indonesia. 

Setelah berpartisipasi dalam Harusai di kampus Universitas Gifu pada 18 Mei 2019, PPI Gifu kemudian juga mengikuti LauLa keesokan harinya pada 19 Mei 2019. LauLa adalah sebuah acara seni budaya yang diselenggarakan oleh International Cultural and Friendship Association (ICFA) atau 国際文化友好協会 (Kokusai Bunka Yūkō Kyōkai). Asosiasi tersebut mempromosikan aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk mengenalkan berbagai budaya internasional. Cabang ICFA Jepang mengadakan festival yang bernama LauLa yang bertajuk “International Friendship and Peace Festival” setahun sekali di markas ICFA, yaitu di Shiojiri, Nagano. Ratusan orang dari berbagai kewarganegaraan yang tinggal di Jepang menghadiri acara ini tiap tahunnya. Kata “Laula” sendiri diambil dari kosakata bahasa Hawaii.

PPI Gifu sedikitnya mengirimkan enam belas orang untuk berangkat dari Gifu menuju Nagano untuk mengikuti gelaran LauLa 2019 kali ini. Tim PPI Gifu diantar-jemput oleh panitia LauLa pada kesempatan kali ini. Pada LauLa 2019 ini, PPI Gifu menampilkan tiga jenis tarian, yakni Poco-Poco, Tari Indang, dan Tari Payung. Poco-Poco yang ditampilkan di panggung luar (outdoor) sukses membuat peserta LauLa lainnya turut berjoget mengikuti irama dipandu oleh teman-teman dari PPI Gifu. Sementar itu, dua tarian lainnya yang ditampilkan di panggung dalam gedung (indoor) mendapatkan apresiasi yang baik dari para penonton. Acara LauLa ini tidak hanya menampilkan tarian dari berbagai negara, namun juga menampilkan pertunjukan seni musik dan gerak lainnya, seperti gerakan taichi, tabuhan gendang khas Jepang (taiko), dan nyanyian. Di samping itu, terdapat pula booth untuk menulis kanji di dalam gedung tempat acara berlangsung. Secara keseluruhan, acara yang ditampilkan pada LauLa 2019 ini hampir sama dengan yang nampak pada LauLa 2018.

Akhir kata, harapan dari segenap pengurus PPI Gifu adalah agar ke depannya, PPI Gifu dapat selalu dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang memberikan kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia seperti Harusai dan LauLa ini. Tetap semangat ya, guys.

Penulis: Adam Rus Nugroho dan Putri Wulandari Zainal

Adakan Hanami, PPI Gifu Sambut “Warga Baru”

Musim semi adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh orang Jepang. Selain suhu udara yang tidak begitu dingin, di musim inilah dapat kita temui indahnya bunga sakura yang bermekaran di sepanjang jalan dengan kelopak pink yang amat cantik. Banyak orang memanfaatkan musim semi untuk bepergian bersama keluarga atau teman dan saudara untuk bersama-sama menikmati indahnya bunga sakura (hanami) sambil bersilaturahmi. Kesempatan yang baik tersebut digunakan oleh PPI Gifu untuk mengadakan hanami sekaligus menyambut “warga baru” dari Indonesia yang datang ke Gifu.

Hanami merupakan tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura yang merupakan lambang kebahagiaan musim semi telah tiba. Di samping itu, hanami juga berarti piknik dengan menggelar alas untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura. Acara Hanami merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh PPI Gifu pada setiap musim semi. Hanami kali ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 April 2019 pukul 9.00-12.00 JST bertempat di Taman Kuronoshiroato yang sering disebut dengan Kurono Park, salah satu taman terbuka yang berada di dekat kampus Universitas Gifu. Keberangkatan dilakukan bersama-sama dengan jalan dari titik kumpul di Ministop, salah satu supermarket mini yang berlokasi di dekat kampus Universitas Gifu. Jarak antara Ministop dan Kurono Park sekitar 2 kilometer. Diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi dengan berjalan kaki. Karena jalan sehat dilakukan bersama-sama sambil mengobrol, waktu tersebut tidak terasa
begitu lama. Tiba-tiba saja kami sudah sampai di lokasi Hanami tersebut. Beberapa panitia sudah standby di lokasi dan mempersiapkan perlengkapan Hanami, seperti alas terpal, alat permainan, dan tentunya hidangan, baik makanan ringan (snack) maupun makanan berat untuk disantap bersama.

Acara diawali dengan perkenalan dan sambutan oleh ketua PPI Gifu periode 2019/2020, Romy Dwipa Yamesa Away, dilanjutkan paparan tentang program kerja PPI Gifu periode kepengurusan 2019/2020 dan pengenalan Pengurus PPI Gifu periode 2019/2020. Setelah pengenalan pengurus, dilanjutkan dengan perkenalan seluruh anggota PPI dan warga baru yang dilakukan dengan permainan hitung dengan bola sehingga menambah suasana menjadi semakin meriah. Pada Hanami kali ini, ada 7 mahasiswa baru Universitas Gifu yang terdiri dari 4 mahasiswa master (Rosnalia Widyan, Ayu Anggraeni, Sri Anggreni, dan Arif Gunawan) serta 3 mahasiswa doktor (Yunalia Muntafi, Cicih Sugianti, dan Puji Lestari). Di samping itu, datang pula beberapa pelajar Nihongo Gakkou dari Nishi-Gifu. Bertambah banyaknya pendatang dari Indonesia ke Gifu, membuat kami semakin merasa di “negara sendiri”.

Setelah perkenalan, berikutnya dilanjutkan dengan acara ramah tamah, yaitu berbincang-bincang ringan sambil menikmati hidangan yang sebagian besar merupakan hasil masakan dari para mahasiswa Universitas Gifu dan keluarga. Selain makanan ringan, gorengan dan minuman, juga tersedia masakan Indonesia rumahan yang tentunya membuat rindu pada kampung halaman. Cerahnya sinar sang surya dan mekarnya bunga Sakura menambah hangatnya acara pada siang hari itu. Hal ini tampak pada raut muka para mahasiswa, khususnya bagi mahasiswa yang baru pertama kali datang ke Jepang dan baru pertama kali melihat bunga sakura secara langsung.

Di sela-sela ramah tamah, dibacakan SK keanggotaan PPI Gifu periode kepengurusan 2019/2020 oleh sekretaris PPI Gifu, Novrianti Arifin. Beberapa anggota baru dimasukkan dalam masing-masing divisi yang ada di dalam kepengurusan PPI Gifu, di antaranya divisi Akademik dan Profesi, Seni dan Budaya, Multimedia dan Dokumentasi, Jasmani dan Rohani, Dana dan Usaha, serta Humas dan Keanggotaan. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Pada akhir acara, dilakukan foto bersama dengan latar pohon sakura yang menghiasi Kurono Park.

Artikel ditulis berdasarkan cerita pengalaman salah satu warga baru “Kampung Gifu”, Yunalia Muntafi.

Sampah Plastik dan Gaya Hidup Individualistik

Oleh: Erika Kartini

(Pemerhati Masalah Sosial, tinggal di Gifu, Jepang)

Beberapa tahun terakhir, permasalahan sampah plastik banyak dibahas. Apalagi semenjak pemerintah China mengeluarkan kebijakan baru yakni tidak lagi menerima impor sampah dari negara lain. Kebijakan ini membuat kalang kabut negara-negara pengekspor sampah. Mereka kebingungan mengatasi sampah yang semakin menggunung.

Kebijakan larangan impor sampah oleh China membuat Jepang harus menghadapi peningkatan lautan sampah plastik. Bukan hanya Jepang, negara-negara berkembang di dunia juga berebut mencari strategi untuk memproses sampah plastik usai China menghentikan impor limbah (Kompas.com, 19/10/2018).

Pengaruh Gaya Hidup

Sampah plastik memang menjadi polemik yang tak kunjung berkesudahan. Ancaman sampah plastik sudah mencapai tahap yang mengerikan. Terutama sampah plastik di lautan. Jutaan hewan mati akibat tertelan sampah plastik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa plastik sangat dibutuhkan manusia. Bagi individu, kantung plastik menjadi sesuatu yang praktis. Tidak perlu repot-repot membawa tas dari rumah. Tinggal beli saja, toh harganya murah. Setelah tidak terpakai tinggal dibuang saja. Sangat praktis menurut mereka. Begitu juga dengan botol minuman kemasan.

Bagi pengusaha, plastik  adalah bahan favorit untuk kemasan makanan atau minuman. Bahan plastik cenderung murah, tahan air dan tidak cepat rusak. Sehingga bisa menekan biaya produksi. Prinsip kapitalis yang mengatakan bahwa mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dipegang erat oleh para pengusaha.

Sedangkan bagi negara, semisal Indonesia, industri plastik menjadi potensi besar yang mendukung pertumbuhan di berbagai sektor. Jumlah industri plastik hingga saat ini mencapai 925 perusahaan. Sector ini menyerap tenaga kerja sebanyak 37.327 orang (Kompas.com, 10/11/2017).

Diakui atau tidak, individualisme telah menjangkiti masyarakat modern saat ini. Manusia tidak lagi memikirkan orang lain. Demikian juga terhadap alam tempat mereka hidup serta mahluk hidup di dalamnya. Mereka tidak berpikir panjang akibat dari  perbuatannya. Gaya hidup yang menginginkan kepraktisan semata, kelak akan membawa kerusakan bagi alam. Di masa depan, anak cucu kita akan menuai dampak negatif sampah plastik ini.

Para pengusaha yang berwatak kapitalis akan selalu mencari cara agar modal yang kecil bisa menghasilkan keuntungan yang besar. Mereka juga akan menjual barang-barang plastik yang cenderung diminati pasar karena harga jual yang murah. Aktor bisnis tidak peduli jika produk yang dihasilkannya akan menambah jumlah sampah plastik dunia.

Negara-negara yang menganut ideologi kapitalis cenderung mem-back up industri yang mendukung pertumbuhan ekonomi seperti industri plastic dan rokok. Pemerintah tidak berpikir apakah itu akan membahayakan kesehatan dan lingkungan.

Jika watak seperti ini masih terus berlanjut maka usaha apapun untuk menangani sampah plastik akan sia-sia. Pemikiran masyarakat harus dirubah. Sehingga gaya hidupnya pun akan berubah. Individu perlu ditanamkan rasa peduli dan kasih sayang. Baik kepada manusia maupun alam.

Pemerintah sebagai pihak yang berwenang seharusnya bisa menerapkan aturan yang pro kepada lingkungan. Bertindak tegas terhadap pengusaha yang masih memproduksi plastic yang tidak ramah lingkungan. Jangan hanya berpikir kepada pertumbuhan ekonomi semata tanpa memikirkan kelestarian alam. Karena sesungguhnya kelestarian alam pasti akan menambah pertumbuhan ekonomi.

Pandangan Islam

Gaya hidup kapitalis dan individualis adalah paham yang rusak dan merusak. Kapitalisme telah menjelma menjadi penyebab serius dari rusaknya dunia. Termasuk permasalahan sampah. Keserakahannya telah membutakan kemanusiaan serta rasa kepedulian. Dalam kapitalisme, mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya adalah hal yang harus dikejar. Paham tersebut tidak lagi menghiraukan kerusakan alam yang terus meningkat.

Demikian juga gaya hidup individualis, paham ini telah membuat manusia hanya perduli kepada dirinya sendiri. Jika membawa keuntungan bagi dirinya maka akan diteruskan tanpa berpikir apakah itu berdampak buruk bagi lingkungan atau tidak.

Dalam Islam pemahaman individualis dan kapitalis tidak dibiarkan tumbuh. Karena Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu akan dimintai pertanggung jawaban. Kelak di akhirat, seluruh alam akan bersaksi tentang kerakusan kapitalisme yang telah merusaknya. Orang-orang yang berbuat zalim terhadap alam akan diberi balasan yang setimpal.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Ruum: 41).

Islam mendorong pemeluknya agar menjaga kebersihan. Karena kebersihan sebagian dari iman. Membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk penjagaan kebersihan. Sehingga kaum muslim harus memiliki kebiasaan ini. Seperti yang sering dikatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Selain itu, Islam juga memerintahkan untuk perduli kepada alam. Menjaga kelestariannya serta tidak melakukan hal-hal yang dapat merusaknya. Seperti perintah untuk menyingkirkan duri dari jalan. Kemudian tidak boleh menebang pohon dan merusak tanaman ketika berperang. Wallahu a’lam bisshowab

Hari Batik Nasional

Hari ini, warga kampung Gifu ikut merayakan hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober. Keluarga PPI Gifu beramai-ramai mengenakan batik ke kampus dan berfoto bersama di depan Academic Core, Universitas Gifu. 

Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi oleh UNESCO. 

Batik adalah identitas budaya Indonesia, sudah seharusnya kita sebagai generasi muda Indonesia melestarikan dan menjaganya.